Berita Detail

STAB Kertarajasa' Admin

Pada jeda kalender akademik tanggal 9–10 Januari 2026, STAB Kertarajasa mengisi masa libur semester dengan agenda yang sangat krusial, yaitu kegiatan Penguatan Kehidupan Monastik bagi Mahasiswa Semester Satu. Program ini dirancang sebagai jembatan transisi bagi para mahasiswa baru agar lebih mampu menginternalisasi nilai-nilai spiritual di tengah lingkungan pendidikan tinggi keagamaan Buddha. Dengan memanfaatkan waktu libur, kegiatan ini difokuskan untuk membangun pondasi mental dan spiritual yang kokoh, sehingga mahasiswa tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman etika sesuai tradisi monastik.

 

 

Tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif serta penghayatan yang mendalam mengenai esensi kehidupan monastik. Bagi mahasiswa semester awal, memahami tata kelola diri dalam lingkungan vihara atau sekolah tinggi merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan studi mereka ke depan. Melalui bimbingan intensif ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kehormatan institusi melalui perilaku personal yang mencerminkan ajaran Buddha, serta menumbuhkan rasa bakti yang tulus dalam menjalani kehidupan sebagai pencari kebenaran.

Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan sosok pendidik sekaligus praktisi spiritual yang kompeten, yaitu Bhikkhu Karuṇasīlo (Patria Wijaya, S.Pd.B., M.M.) sebagai pemateri utama. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri karena mampu memadukan perspektif akademis manajemen dengan nilai-nilai luhur kepanditaan. Bhante Karuṇasīlo memaparkan materi Sekhiyavatta, yang merupakan kumpulan peraturan etika dan tata laku bagi para Sāmaṇera dan Aṭṭhasīlanī. Materi ini mencakup aspek-aspek mendetail mengenai cara berpakaian, cara berjalan, hingga tata cara makan yang sopan, yang semuanya bertujuan untuk melatih kewaspadaan (sati) dalam setiap gerak-gerik fisik.

Selain materi monastik murni, Bhante juga memberikan pemaparan mendalam mengenai Sīla Upāsaka dan Upāsikā sebagai landasan moral bagi mereka yang masih menjalani kehidupan perumah tangga namun tetap ingin mendalami ajaran Buddha. Penyampaian materi dilakukan secara sistematis dan interaktif, menekankan bahwa disiplin bukanlah sebuah beban, melainkan sarana untuk mencapai kebebasan batin. Dengan menanamkan etika dan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa diajak untuk melihat bahwa setiap aktivitas—sekecil apa pun—merupakan bentuk praktik Dharma yang dapat memperhalus karakter dan perilaku mereka.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut, sesi terakhir diisi dengan ujian pemahaman materi yang berfungsi sebagai instrumen evaluasi efektivitas pembelajaran. Ujian ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana para peserta mampu menyerap konsep-konsep etika yang telah diajarkan sebelum nantinya diimplementasikan secara nyata. Setelah seluruh prosesi akademik dan spiritual selesai, kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan antara pemateri dan seluruh mahasiswa. Momen ini menandai berakhirnya pelatihan dengan semangat baru bagi mahasiswa semester satu untuk memulai semester berikutnya dengan integritas yang lebih tinggi.

Penguatan Kehidupan Monastik