Kota Malang kembali menjadi ruang perjumpaan lintas iman dalam rangka peringatan Haul Gus Dur ke-16 yang diselenggarakan oleh Gusdurian Muda Kota Malang. Kegiatan puncak berlangsung di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya pada Kamis, 5 Maret 2026, dan menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama serta akademisi sebagai narasumber. Dalam forum tersebut, Uun Triya Tribuce, S.Pd., M.Sos, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STAB Kertarajasa, hadir sebagai narasumber bersama Dr. Mohamad Mahpur, M.Si. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menekankan kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan. Acara dibuka secara resmi melalui sambutan dari Kepala UPT Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (PKPK) Universitas Brawijaya, Dr. Mohamad Anas, M.Phil, yang menegaskan pentingnya menjaga ruang dialog lintas iman di tengah dinamika sosial global. Kehadiran berbagai tokoh lintas agama menunjukkan bahwa peringatan Haul Gus Dur tidak sekadar seremoni, melainkan juga ruang refleksi kebangsaan yang mendalam.
Rangkaian kegiatan Haul Gus Dur tersebut merupakan bagian dari program Safari Damai Ramadan yang digagas oleh Gusdurian Muda Kota Malang. Program ini diawali dengan Safari Damai Jilid 1 yang dilaksanakan di Gereja Kayutangan Kota Malang, kemudian dilanjutkan dengan Safari Damai Jilid 2 di Vihara Dharma Mitra Kota Malang. Kedua kegiatan tersebut menghadirkan dialog lintas iman yang mengangkat refleksi spiritualitas puasa dalam perspektif berbagai agama. Puncak kegiatan kemudian digelar dalam bentuk sarasehan kebangsaan, dialog lintas iman, doa bersama, dan buka puasa bersama di Universitas Brawijaya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, panitia berharap nilai-nilai utama Gus Dur dapat terus hidup dalam kesadaran generasi muda Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Semangat tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia yang damai dan inklusif.

Acara puncak diawali dengan penampilan seni budaya yang menampilkan pembacaan puisi, musik, serta lantunan sholawat yang menggambarkan kekayaan budaya Indonesia. Penampilan tersebut menghadirkan suasana reflektif sekaligus memperkuat pesan persaudaraan lintas iman yang menjadi semangat utama peringatan Haul Gus Dur. Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan kebangsaan yang dipandu oleh moderator Adiba Sofinadya. Dalam pengantarnya, moderator mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan warisan pemikiran Gus Dur bagi generasi muda. Ia menekankan bahwa nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan yang diperjuangkan Gus Dur tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial di Indonesia dan dunia saat ini. Pertanyaan utama yang diajukan dalam diskusi tersebut adalah bagaimana generasi muda dapat menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang semakin plural dan kompleks. Diskusi ini kemudian berkembang menjadi ruang dialog kritis yang penuh gagasan dan refleksi.
Dalam pemaparannya, Dr. Mohamad Mahpur, M.Si mengkritisi kondisi sosial yang masih menyisakan persoalan ketimpangan dan ketidakadilan, khususnya dalam ruang pendidikan. Ia menekankan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjaga nilai kesetaraan dalam kehidupan sosial. Menurutnya, semangat tersebut hanya dapat tumbuh apabila generasi muda tidak sekadar memahami konsep kesetaraan secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam pengalaman sosial yang nyata. Melalui keterlibatan aktif, generasi muda dapat merasakan langsung pentingnya solidaritas dan empati dalam kehidupan bersama. Dr. Mahpur juga mengajak peserta untuk melihat kembali teladan Gus Dur yang selalu membuka ruang dialog bagi berbagai kelompok yang berbeda. Dengan cara inilah, nilai-nilai kemanusiaan dapat terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Uun Triya Tribuce dalam paparannya menegaskan bahwa pembangunan kesadaran sosial generasi muda tidak hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga pada pengetahuan dan keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa kesetaraan, keadilan, dan toleransi harus dipahami sebagai fondasi kesejahteraan sosial yang mampu menjaga harmoni dalam masyarakat yang majemuk. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pemahaman yang kuat bahwa merawat keberagaman bukan sekadar wacana moral, tetapi merupakan tanggung jawab sosial yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan semangat kolektif agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada diskursus intelektual semata. Dengan pengetahuan yang tepat dan pengalaman sosial yang kuat, generasi muda dapat menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang inklusif. Kontribusi pemikiran Uun Triya Tribuce dalam forum ini menunjukkan peran aktif STAB Kertarajasa dalam memperkuat dialog lintas agama di tingkat nasional.

Sebagai penutup, kegiatan Haul Gus Dur ke-16 ditutup dengan doa lintas iman yang dipanjatkan oleh perwakilan berbagai agama, termasuk Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Konghucu, Bahai, serta penghayat kepercayaan. Mahasiswa STAB Kertarajasa turut berkontribusi dengan membacakan doa menurut tradisi agama Buddha sebagai bentuk partisipasi aktif dalam ruang dialog kebangsaan. Momentum tersebut menjadi simbol kuat bahwa keberagaman keyakinan dapat bersatu dalam doa untuk kedamaian bangsa. Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan seluruh peserta. Peringatan Haul Gus Dur ini tidak hanya menjadi ruang refleksi spiritual, tetapi juga menjadi panggung penting untuk menegaskan komitmen bersama dalam menjaga toleransi dan kesetaraan di Indonesia. Kehadiran dan kontribusi Uun Triya Tribuce sebagai Kepala LPPM STAB Kertarajasa menunjukkan komitmen lembaga pendidikan Buddha tersebut dalam membangun dialog lintas iman yang konstruktif, baik di tingkat nasional maupun global