Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Pekan Pendalaman Dhamma (PPD) tahun 2026 hadir sebagai sebuah momentum spiritual yang istimewa, diselenggarakan atas inisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAB Kertarajasa yang bersinergi erat dengan pengurus Padepokan Dhammadipa Arama. Kegiatan yang berlangsung hingga puncaknya pada tanggal 29 Mei 2026 ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah manifestasi bakti dalam menyambut Trisuci Waisak 2570 BE. Kehadiran para narasumber yang kompeten—mulai dari jajaran Bhikkhu Sangha, dosen pakar, hingga mahasiswa berprestasi—menciptakan ruang dialog dharma yang inklusif dan mendalam bagi seluruh peserta yang hadir di lingkungan padepokan yang asri.

 

 

Penyelenggaraan PPD kali ini memiliki nilai strategis yang sangat penting karena menjadi bagian integral dari kesuksesan program "Waisakasananda". Program ini merupakan inisiatif unggulan dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia yang bertujuan untuk menyemarakkan syiar Buddha Dhamma di tengah masyarakat luas. Dengan semangat kolaborasi, STAB Kertarajasa berupaya mewujudkan visi pemerintah dalam membangun karakter umat Buddha yang religius dan moderat, sekaligus memperkuat identitas institusi sebagai pusat pendidikan tinggi keagamaan Buddha yang progresif.

 

Acara pembukaan Pekan Pendalaman Dhamma terasa semakin berkesan dengan kehadiran Bhikkhu Abhayavasso sebagai penceramah utama. Beliau merupakan alumni kebanggaan STAB Kertarajasa yang kini telah menempuh jalan mulia sebagai anggota Sangha. Kehadiran beliau tidak hanya memberikan inspirasi bagi para mahasiswa mengenai keberlanjutan pengabdian, tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan institusi dalam mencetak kader-kader Dhamma yang mumpuni. Dalam pembabarannya, beliau membawa suasana yang teduh namun menggugah semangat spiritualitas para hadirin untuk menyelami makna kehidupan lebih dalam.

 

Fokus utama dari pesan Dhamma yang disampaikan oleh Bhikkhu Abhayavasso adalah mengenai kelangkaan dua tipe manusia di dunia ini, sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Sang Buddha. Beliau menekankan bahwa dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali didominasi oleh kepentingan pribadi, menemukan sosok yang memiliki ketulusan murni merupakan sebuah tantangan besar. Dua figur ini, yakni Pubhakari dan Kattanakattavedi, disebut sebagai orang yang sulit ditemukan karena memerlukan kualitas batin yang sangat tinggi dan disiplin moral yang kuat untuk bisa mempraktikkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Lebih lanjut, Bhikkhu Abhayavasso menjelaskan secara mendalam mengenai konsep Pubhakari, yakni sosok yang melakukan kebaikan terlebih dahulu tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun. Seorang Pubhakari adalah pemberi yang tulus, yang bertindak atas dasar kasih sayang dan empati tanpa menunggu stimulus atau keuntungan materi dari pihak lain. Di tengah masyarakat yang sering kali menggunakan prinsip transaksional dalam berbuat baik, menjadi seorang Pubhakari berarti menjadi pelopor kebajikan yang berani mendobrak ego demi kesejahteraan makhluk lain, sebuah kualitas yang sangat relevan dengan semangat pengabdian mahasiswa.

 

Sebagai pelengkap dari kualitas pertama, Bhikkhu Abhayavasso menguraikan pentingnya menjadi seorang Kattanakattavedi, yaitu orang yang tahu berterima kasih dan berusaha membalas jasa kebaikan orang lain. Beliau mengingatkan bahwa rasa syukur adalah fondasi dari kebahagiaan batin; seseorang yang mampu mengenali sekecil apa pun jasa yang diterimanya dan memiliki tekad untuk membalasnya adalah orang yang mulia. Dengan menutup uraiannya, beliau mengajak seluruh peserta PPD untuk tidak hanya mengejar pengetahuan teori secara intelektual, tetapi juga mempraktikkan kedua kualitas luhur ini agar menjadi pribadi yang unggul dan membawa manfaat nyata bagi keluarga, agama, serta bangsa.

 

Pekan Pendalaman Dhamma

Vesākha Sānanda