Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Tepat pada tanggal 28 Januari 2026, mahasiswa Semester VII Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa menyelenggarakan kegiatan studi tour sejarah dan budaya yang berfokus pada eksplorasi situs-situs peninggalan Hindu–Buddha di wilayah Pasuruan dan sekitarnya, Jawa Timur. Perjalanan edukatif ini mencakup empat situs utama, yaitu Candi Gunung Gangsir, Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Jawi. Melalui observasi langsung di lapangan, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang tamasya akademik, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap dimensi sejarah, nilai religiusitas yang mendalam, serta dinamika perkembangan peradaban Nusantara pada masa klasik yang telah membentuk jati diri bangsa hingga saat ini.

 

 

Destinasi pertama yang disambangi adalah Candi Gunung Gangsir, sebuah monumen megah yang diperkirakan berdiri sejak masa transisi antara Kerajaan Medang hingga awal berdirinya Majapahit. Secara arsitektural, candi bercorak Hindu ini menjadi objek studi yang menarik karena menunjukkan perpaduan unik antara langgam Jawa Tengah yang cenderung tambun dengan gaya Jawa Timur yang mulai ramping. Mahasiswa mengamati dengan saksama relief sederhana namun kokoh yang menghiasi dinding bata merahnya. Keberadaan Candi Gunung Gangsir dianalisis sebagai pusat kegiatan keagamaan masa lampau yang difungsikan untuk pemujaan dewa-dewa Hindu, sekaligus menjadi bukti ketangguhan teknik konstruksi masyarakat kuno dalam mengolah material bata.

 

 

Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Candi Pari, sebuah mahakarya peninggalan masa kejayaan Majapahit yang dibangun sekitar tahun 1371 Masehi. Berbeda dengan struktur candi pada umumnya, Candi Pari menampilkan bentuk yang lebih lebar dan menyerupai kuil-kuil di Champa, yang mengindikasikan adanya pertukaran budaya lintas negara pada era tersebut. Di sini, mahasiswa mendiskusikan peran candi sebagai tempat pemujaan yang sakral bagi masyarakat agraris Majapahit. Struktur bata merahnya yang elegan namun sederhana mencerminkan estetika religius yang kuat, di mana fungsi bangunan tidak hanya sebagai tempat peribadatan, tetapi juga sebagai simbol kehadiran spiritualitas di tengah kehidupan sosial masyarakat pada abad ke-14.

 

 

Tidak jauh dari lokasi sebelumnya, rombongan mahasiswa melangkah menuju Candi Sumur, yang secara historis memiliki kaitan erat dengan Candi Pari. Candi ini diidentifikasi bukan sebagai bangunan pemujaan utama, melainkan sebagai bangunan pendukung yang berfungsi sebagai petirthaan atau sumber air suci. Penemuan ini memicu diskusi mendalam di kalangan mahasiswa mengenai pentingnya unsur air dalam ritual penyucian diri (purifikasi) pada praktik spiritual Hindu–Buddha. Candi Sumur memberikan gambaran konkret bahwa infrastruktur keagamaan masa lalu telah dirancang secara integral, di mana air dianggap sebagai perantara sakral untuk membersihkan batin sebelum seseorang menghadap yang transenden.

 

 

Kunjungan mencapai puncaknya saat mahasiswa tiba di Candi Jawi, salah satu peninggalan paling signifikan dari Kerajaan Singhasari yang berfungsi sebagai tempat pendharmaan bagi Raja Kertanegara. Candi ini berdiri anggun dengan latar belakang Gunung Penanggungan, menampilkan keunikan struktur yang terdiri dari kaki candi bergaya Hindu dan puncak yang berbentuk Stupa (Buddha). Fenomena arsitektural ini dijelaskan kepada mahasiswa sebagai representasi nyata dari ajaran Siwa-Buddha. Melalui pengamatan pada Candi Jawi, mahasiswa belajar bagaimana sinkretisme keagamaan di masa lalu mampu menciptakan keharmonisan sosial, di mana perbedaan doktrinal dileburkan dalam satu wadah penghormatan kepada leluhur dan penguasa.

 

Selama berada di Candi Jawi, mahasiswa juga mendalami narasi yang tertuang dalam Kitab Negarakertagama mengenai fungsi ganda candi ini sebagai tempat pemujaan sekaligus monumen peringatan. Diskusi kelompok berkembang pada topik bagaimana nilai-nilai toleransi yang dipraktikkan oleh Raja Kertanegara masih relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan beragama di Indonesia modern. Pengamatan terhadap relief yang masih tersisa memberikan gambaran visual mengenai kehidupan keraton dan rakyat jelata, yang memungkinkan mahasiswa untuk merekonstruksi kembali kejayaan peradaban masa lalu melalui kacamata akademis dan spiritual yang kritis namun tetap menghargai warisan leluhur.

Sebagai penutup, kegiatan studi tour ini memberikan dampak intelektual dan emosional yang signifikan bagi para mahasiswa Semester VII STAB Kertarajasa. Selain memperoleh data historis yang valid untuk kebutuhan akademik, mereka juga berhasil menyerap nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan spiritualitas yang terpendam di balik reruntuhan batu dan bata. Pengalaman ini diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa. Dengan memahami akar sejarahnya, para calon sarjana agama ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi terciptanya masyarakat yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

Tour Candi