Berita Detail

Latifah

Sepanjang bulan Oktober 2025 ini, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa menyelenggarakan rangkaian pembekalan Program Pengabdian Mahasiswa (PPM) bagi mahasiswa semester V. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam menyiapkan mahasiswa untuk melaksanakan pengabdian masyarakat yang berakar pada nilai-nilai Dhamma dan kepedulian ekologis.

Program PPM dijadwalkan berlangsung pada 1–31 Januari 2026, diikuti oleh 15 mahasiswa yang akan bertugas di Vihara Dharma Sila, Desa Mategal RT 22/RW 08, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Dengan tema “Sinergi Pendidikan Keagamaan Buddha dengan Literasi Ekologis dalam Mewujudkan Masyarakat yang Peduli Lingkungan di Vihara Dharma Sila, Magetan,” kegiatan ini menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—menggabungkan penerapan ilmu, pembentukan kepedulian sosial, dan kemampuan analitis dalam menghadapi permasalahan nyata di masyarakat.

Dosen STAB Kertarajasa yang turut berbagi wawasan dan pengalaman dalam kegiatan ini di antaranya Latifah, S.S., M.A., Atthasilani Gandhasilani Uun Triya Tribuce, S.Pd.B., M.Sos., dan Dr. Wina Dhamayanti, S.Pd.B.,M.Ed. Selain dosen-dosen STAB Kertarajasa, pemateri tamu turut memperkaya wawasan mahasiswa,  yaitu  Puspita Dwi Aprilixanti, S.T., M.Ling. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

 

Pemberdayaan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah

Puspita Dwi Aprilixanti membawakan materi “Pemberdayaan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah.” Ia mengajak mahasiswa memahami literasi ekologis melalui pengenalan terhadap krisis lingkungan global dan lokal yang semakin kompleks.

Puspita menekankan pentingnya green living atau gaya hidup hijau yang tumbuh dari komunitas kecil seperti keluarga dan vihara. Vihara dapat menjadi pusat pembelajaran lingkungan dan penggerak perilaku masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap alam. Mahasiswa diharapkan menjadi mitra masyarakat dalam membangun kebiasaan baru yang berkelanjutan, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengolah limbah menjadi bahan yang bermanfaat.

 

Theory of Change dan Praktik Ekologis

Latifah menyajikan dua materi, yakni “Theory of Change (ToC)” dan “Praktik Ekologis dan Pendampingan Masyarakat.”

Dalam Theory of Change, Latifah menekankan pentingnya berpikir strategis dan berorientasi pada perubahan sosial. Mahasiswa belajar memetakan keterkaitan antara masalah, kegiatan, hasil, dan dampak yang ingin diwujudkan selama pengabdian. Contohnya, bagaimana kegiatan pengelolaan sampah di vihara dapat menghasilkan perubahan nyata pada perilaku masyarakat menuju lingkungan yang lebih bersih dan ekosistem berkelanjutan.

Pada sesi Praktik Ekologis dan Pendampingan Masyarakat, mahasiswa diajak menginternalisasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui kegiatan sederhana dan kreatif. Contohnya, berbagai kegiatan inspiratif seperti sosialisasi pengelolaan sampah, pelatihan pembuatan kompos, daur ulang, permainan edukatif siswa SMB, dan pelatihan pembuatan eco-enzim. Pendekatan yang partisipatif dan membumi ini diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa merawat lingkungan adalah bentuk nyata praktik welas asih dalam ajaran Buddha.

 

Ekoteologi Buddhis

Atthasilani Gandhasilani Uun Triya Tribuce mengawali pemaparannya dengan pertanyaan yang menggugah: benarkah ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan bagi alam? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk bagi refleksi tentang bagaimana manusia memaknai hubungan spiritualnya dengan lingkungan. Ia menyoroti bahwa dalam banyak tradisi, tafsir terhadap ajaran agama sering kali menempatkan manusia di posisi paling tinggi, seolah-olah sebagai penguasa alam. Cara pandang ini membuat manusia merasa berhak menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas, hingga akhirnya, seperti diungkapkannya, “alam kehilangan jiwanya.”

Uun kemudian menyinggung contoh dari Gereja Katolik melalui ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus, yang dengan jujur mempertanyakan: “Dunia macam apa yang akan kita wariskan kepada generasi masa depan, kepada anak-anak yang sedang bertumbuh?” Baginya, seruan itu adalah bentuk pertobatan spiritual yang mengingatkan umat manusia untuk kembali menghormati alam sebagai rumah bersama.

Dari refleksi lintas iman tersebut, Uun mengajak peserta melihat bagaimana ajaran Buddha juga menanamkan kesadaran ekologis. Ia menjelaskan konsep Niyama, hukum keteraturan alam semesta yang menunjukkan keterhubungan antara semua makhluk dan fenomena. Prinsip ini, menurutnya, sejalan dengan Pandangan Benar (Sammā Diṭṭhi) dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan—pandangan yang menumbuhkan kesadaran sebab-akibat dan menuntun manusia untuk hidup selaras dengan alam. Melalui pemahaman ini, praktik Buddhis terwujud dalam kepedulian terhadap keberlanjutan alam dan kehidupan bersama.

 

Pendidikan Buddhis Kontekstual

Setelah refleksi ekologis yang dibawakan oleh Uun, sesi pembekalan berlanjut dengan materi “Pendidikan Buddhis Kontekstual” yang disampaikan oleh Wina Dhamayanti. Materi ini menutup rangkaian pembekalan dengan penekanan pada bagaimana ajaran Buddha dapat dihidupkan dalam ruang pendidikan dan kehidupan masyarakat.

Dr. Wina menjelaskan bahwa pendidikan Buddhis bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan atau menyampaikan teori ajaran, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai Dhamma dihidupkan melalui tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa mahasiswa PPM memiliki peran strategis sebagai pembawa nilai kebajikan di tengah masyarakat. Melalui pendekatan pembelajaran yang mengaitkan ajaran Dhamma dengan konteks lokal, mahasiswa dapat menjembatani antara nilai-nilai universal Buddhis dan pengalaman sehari-hari warga.

“Jangan hanya mengajarkan Ajaran Buddha secara teori, tetapi wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tindakan kecil dengan kesadaran adalah pendidikan,” ujarnya.

Menurut Dr. Wina, pendidikan Buddhis kontekstual berarti menghidupkan Dhamma dalam dunia nyata kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa PPM diharapkan menjadi agen pembawa nilai kebajikan dalam ruang pendidikan di masyarakat—belajar, mengajar, dan menghidupi Dhamma bersama komunitas tempat mereka mengabdi. Pendekatan inilah yang, menurutnya, membuat praktik pengabdian menjadi lebih bermakna dan memberi ruang bagi Dhamma untuk benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dari Pemahaman ke Aksi Nyata

Rangkaian pembekalan PPM STAB Kertarajasa 2025 memperlihatkan sinergi antara pendidikan agama, kepedulian ekologis, dan pemberdayaan sosial. Melalui berbagai sesi yang inspiratif, mahasiswa mendapat bekal wawasan spiritual sekaligus keterampilan praktis untuk menerapkan nilai-nilai Dhamma di tengah kehidupan masyarakat. Dengan semangat “dari paham ke peduli, dari peduli ke aksi,” mahasiswa STAB Kertarajasa siap menghidupkan Dhamma melalui pengabdian di Vihara Dharma Sila, Magetan.

Pengabdian masyarakat

Ekologi Buddhis