Dalam upaya memperkuat wawasan mahasiswa tentang harmoni sosial dan pendidikan inklusif, Program Studi Kependidikan Agama Buddha STAB Kertarajasa menyelenggarakan kuliah tamu pada mata kuliah Kajian Agama-Agama Semester II. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (31/3) ini menghadirkan dosen tamu, FX Domini BB Hera, seorang sejarawan, Dosen Luar Biasa Departemen Humaniora dan Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya, serta Guru Sejarah di SMA HelloMotion Malang.
Mengusung topik “Peran Kristen dan Katolik dalam Pendidikan di Indonesia” , kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan literasi keagamaan yang tidak hanya normatif, tetapi juga historis dan kontekstual. Kehadiran narasumber yang akrab disapa Sisco ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk melihat secara kritis bagaimana tradisi keagamaan berkontribusi nyata dalam membangun sistem pendidikan nasional.
Dalam paparannya, Sisco menguraikan secara komprehensif sejarah masuknya agama Katolik dan Kristen di Nusantara—sebuah perjalanan panjang yang tidak lepas dari dinamika hubungan diplomatik antara Tahta Suci Vatikan dengan Indonesia. Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan Katolik dan Protestan tidak hanya tumbuh sebagai sarana misi, tetapi juga sebagai wujud nyata dari tradisi skolastik: tradisi intelektual yang menekankan pada penalaran rasional, disiplin ilmu, dan pembentukan karakter.
Tradisi skolastik dalam Katolik dan Protestan menjadi fondasi yang kuat bagi berkembangnya lembaga pendidikan yang menonjol di Indonesia. Ini merefleksikan bagaimana keyakinan diwujudkan dalam pelayanan intelektual dan kemanusiaan.
Kuliah ini merupakan bagian dari upaya kurikuler untuk membekali mahasiswa dengan perspektif multidisiplin. Sebagai calon pendidik agama Buddha, mahasiswa tidak hanya perlu mendalami ajaran agamanya sendiri, tetapi juga memahami bagaimana agama-agama lain berkontribusi dalam membangun peradaban pendidikan di Indonesia. Inilah esensi dari literasi keagamaan yang kontekstual.
Mahasiswa tampak antusias mengikuti sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan mendalam seputar dinamika hubungan agama dan negara dalam kebijakan pendidikan, serta relevansi tradisi skolastik dalam konteks kekinian. Suasana diskusi berjalan hangat, mencerminkan keterbukaan intelektual yang menjadi napas dari mata kuliah ini.
Salah satu benang merah yang menguat dari kuliah ini adalah bagaimana sejarah panjang pendidikan berbasis agama, dalam hal ini Katolik dan Kristen, telah melampaui batas-batas sektarian dan justru menjadi fondasi bagi lahirnya ruang-ruang dialog lintas iman. Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, pengayaan wawasan sejarah semacam ini menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa harmoni sosial lahir dari kesediaan untuk mengenal satu sama lain secara utuh. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan mata kuliah Kajian Agama-Agama yang secara konsisten menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang tradisi iman dan keilmuan.
Kuliah ini bukan sekadar pertemuan akademik biasa. Di balik paparan sejarah dan diskusi yang berlangsung, tersirat kontribusi nyata terhadap agenda global yang saat ini menjadi perhatian dunia: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ketika mahasiswa diajak menelusuri bagaimana tradisi skolastik melahirkan lembaga-lembaga pendidikan yang unggul, sebenarnya mereka sedang diajak menapaki langsung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Bukan hanya soal angka partisipasi belajar, tetapi tentang bagaimana pendidikan dijalankan dengan kesadaran historis dan keterbukaan lintas iman.
Ketika mahasiswa kemudian berdialog tentang peran agama-agama dalam membangun peradaban, di situlah SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh hadir tidak sebagai slogan, melainkan sebagai praktik nyata. Toleransi tumbuh bukan karena paksaan, melainkan karena pemahaman. Harmoni sosial terawat karena setiap individu belajar melihat yang lain dalam bingkai sejarah dan kebersamaan.
Dan ketika STAB Kertarajasa, menghadirkan dosesn Universitas Ciputra dan SMA HelloMotion Malang untuk duduk bersama dalam kolaborasi akademik ini, mereka sedang membuktikan bahwa SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan bukan sekadar wacana. Jejaring lintas institusi inilah yang menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem pendidikan yang inklusif, tempat ilmu tidak lagi terkurung dalam satu tembok kampus, tetapi bersemi melalui pertemuan lintas tradisi dan lintas generasi.
Dengan terselenggaranya kuliah ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya pulang dengan catatan tambahan tentang sejarah pendidikan Kristen dan Katolik di Indonesia. Lebih dari itu, mereka dibekali dengan cara berpikir yang lebih utuh: bahwa menjadi pendidik agama Buddha di era kontemporer berarti juga menjadi pewaris semangat skolastik, penggerak dialog, dan perawat harmoni.
Literasi keagamaan yang kontekstual bukan lagi sekadar kebutuhan akademik, tetapi telah menjadi panggilan untuk menjadi agen perubahan yang moderat, toleran, dan aktif merawat Indonesia dalam keberagamannya.