Berita & Artikel

Jalan Menuju Kebahagiaan

Oleh Atthasilani Gandhasilani

 

Māvamaññetha puññassa, Na ma ta āgamissati

Udabindu nipātena, Udakumbhopi pūrati

Pūrati dhīro puññassa, Thokamthokampi acina.

“Janganlah meremehkan kebajikan walaupun keci,

Dengan berkata:

perbuatan bajik tidak akan membawa akibat,

Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes,

Demikianpula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.

(dhammapada, IX 122)

Hidup ini bagaikan ombak di pantai, terkadang datang namun juga cepat berlalu. Selalu bergulung dan berubah tiada henti. Seperti itulah kehidupan, kebahagiaan dan penderitaan datang silih berganti. Ada banyak cara untuk bisa mendapatkan kebahagiaan, salah satunya adalah dengan ihklas menerima apa yang telah terjadi padanya, apakah itu hasil kamma yang baik atau yang buruk. Dengan kita ikhlas menerima semua kejadian, maka tidak akan timbul suatu kekecewaan dan penderitaan tetapi malah mendapatkan suatu pengetahuan baru.

Bentuk konkret yang lain dari keikhlasan adalah kegiatan dāna. Menurut KBBI, Dana memiliki makna pemberian, hadiah dan derma sedangkan menurut bahasa pali Dāna memiliki makna keikhlasan dalam memberi. Kegiatan dāna disebut dengan berdana. Berdana adalah perbuatan yang paling mudah untuk dilakukan sehingga berdana berada pada urutan pertama Sepuluh Kualitas Kesempurnaan (Parami) dan Tiga landasan Perbuatan Berjasa (Puñña-Kirya-Vatthu). Dāna yang dimaksud adalah Dāna yang diakukan dengan hati yang ihklas dengan demikian kebajikan yang dilakukan akan membuahkan jasa-jasa kebajikan yang tidak sedikit. Hasil dari perbuatan ini tidak hanya dirasakan oleh ia yang melaksanakan Dhamma tetapi juga dapat dirasakan oleh saudara-saudaranya yang telah meningggal yang terlahir di alam yang lebih memderita dengan cara melakukan pelimpahan jasa. Dengan demikian, kita dapat merenungkan bahwa harta yang kita miliki selama hidup pada saat kita meninggal tidak ada yang kita bawa sama sekali. Dalam Nidikhaṇḍa Sutta dijelaskan bahwa Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan “Harta” yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria. Tetapi harta yang diperoleh secara materi dari usaha kerja bukanlah harta sejati karena,

Pertama Jika timbunan harta itu berpindah tempat, ia lupa dengan tanda-tandanya atau bila “naga-naga” mengambilnya, dan Yakkha-Yakkha mencurinya. Harta yang disimpan dapat berpindah tempat karena adanya faktor dari luar. Bagaimana bisa dibawa ke alam selanjutnya jika di alam yang sekarang saja sudah mengalami perubahan.

Kedua, Mungkin juga timbunan harta itu dicuri oleh sanak keluarganya atau ia tidak menjaganya dengan baik, atau bila buah KAMMA baiknya telah habis semua hartanyapun akan lenyap. Harta yang sudah disimpan hilang karena matangnya karma buruk yang ia lakukan diwaktu lampau. Dalam paritta Abhihhapaccavekkhaa Pāṭha terdapat bait Kammasakomhi Kammādayādo Kamayoni, artinya “Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari karmaku sendiri.” Siapapun tidak dapat lari dari buah karmanya sendiri, sekecil apapun karma yang diperbuatnya pasti akan berbuah. Dalam masyarakat umum ada anggapan bahwa setelah melakukan perbuatan jahat dan bertobat, maka perbuatan jahat yang dulu dilakukan akan hilang atau dihapuskan, anggapan tersebut tidak benar karena karma sekecil apapun akan berbuah seperti perumpamaan orang yang menaruh garam dalam gelas kemudian air dituangkan kedalamnya sampai penuh, meskipun garamnya tidak kelihatan tetapi rasa asinnya masih terasa walau dalam kadar yang rendah.

Harta yang dimiliki dapat mejadi harta sejati jika sebagian harta tersebut didanakan dengan penuh keikhlasan. Ada 3 faktor yang menentukan besarnya jasa kebajikan yang diperoleh dari berdana yaitu:

1. faktor Niat (kehendak).

Motif terbaik di dalam berdana adalah niat bahwa tindakan berdana itu memperkuat usaha seseorang untuk mencapai Nibbāna dan dilakukan dengan hati yang ikhlas.

2. faktor kualitas si penerima dāna

Kemurnian dari penerima merupakan faktor lain yang membantu menentukan sifat dari buah karma. Makin mulia penerima, makin besar pula manfaat atau jasa kebajikan yang diterima oleh si pemberi. Dalam Kitab Aguttara Nikāya iii, 172 disebutkan Dāna yang diberikan kepada para petapa dan para brahmana yang mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan akan memberikan hasil luar biasa, seperti menanam benih di ladang yang subur, disiapkan dengan baik dan diairi dengan baik akan mengahasilkan panen berlimpah.

3. Objek yang diberikan berupa MISA DNA dan DHAMMA DNA

misa Dāna: Pemberian dalam bentuk materi (termasuk uang), Dhamma Dāna: Pemberian berupa pengetahuan Dhamma, misalnya: mengajar, memberikan khotbah, menulis, menerbitkan dan memberi buku-buku Dhamma. Sang Buddha mengatakan bahwa Dhammadāna melebihi semua dāna lain.

 

Dalam Aguttara Nikāya V.31 dijelaskan tentang manfaat berdana bagi manusia, yaitu:

Pertama, mendapat keelokan sebagai manusia, Keelokan merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Siapa yang tidak ingin tampil elok? Pasti semua orang menginginkanya. Keelokan dalam Buddhism dibagi menjadi 2 yaitu jasmani dan spiritual. Keelokan secara jasmani meliputi keindahan yang bersifat fisik dan dapat dilihat kasat mata seperti kecantikan, ketampanan, bentuk tubuh yang ideal dan lainnya yang berhubungan dengan fisik. Semua orang pasti menginginkan hal tersebut dalam hidupnya. Sedangkan keelokan yang bersifat spiritual merupakan keindahan yang ada di dalam pribadi orang masing-masing. Keindahan spiritual adalah keindahan dalam tingkah laku atau moral, spritual dan batiniah karena mengacu pada paramatha sacca. Keelokan untuk dapat terbebas dari lingkaran samsara dan mencapai nibbāna. Keindahan moral ada di dalam kehidupan para Bhikkhu atau pabbajita yang menjalankan hidup sesuai dengan sīla, tetapi umat awampun juga bisa memiliki keindahan spiritual jika menjalankan sīla dengan baik dan banyak melakukan perbuatan bajik sepeti berdana.

Kedua, Kebahagiaan manusia. Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia, tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Dengan harta kekayaan yang dimiliki, kemudian melakukan berdana terutama kepada para arya maka kebahagiaan akan bertambah. Berdana itu sama saja melepas tetapi bukan sekedar melepas namun melepas untuk ditanam. Berdana kepada para anggota Saṅgha sama dengan menanam di ladang yang subur. Jika menanam di ladang yang subur maka buahnya akan berlipat dan mendatangkan kebahagiaan yang berlipat pula.

Ketiga, Kemashuran manusia. Berdana merupakan latihan untuk membiasakan diri bersikap murah hati. Seseorang yang murah hati bukan hanya disenangi, tetapi juga dikagumi banyak orang termasuk para bijaksana. Para bijaksana adalah orang yang tahu benar dan salah, baik dan buruk, mereka tentu akan berasosiasi dengan yang baik. kemudian reputasi kebaikannya akan tersebar luas dan menimbulkan kepercayaan diri yang kuat. Orang yang percaya diri akan mudah berasosiasi dengan siapapun.

Keempat, Kekuatan Manusiawi. Sebesar apapun dāna yang telah dilakukan tetapi jika dalam pemberianya tidak mengunakan hati yang penuh keikhlasan, maka apa yang telah dilakukan tidak akan membuahkan kamma dan mnejadi ahosikamma atau kamma mandul yang tidak membuahkan akibat. Oleh Karena, itu dalam berdana marilah dilakukan dengan penuh keikhlasan agar nantinya membuahkan hasil di kehidupan mendatang. Semua itu dapat dicapai jika dalam berdana menggunakan cara yang benar dan tepat. Pertama adanya niat baik antara pendana dengan penerima tanpa mempedulikan apakah benda yang didanakan besar atau kecil. Ada 5 cara dalam berdana:

  1. Sakkaccam dāna deti: dāna seharusnya diberikan dengan cara yang demikian sehingga orang yang diberi tidak merasa dihina, dikecilkan atau tersinggung.
  2. Cittikatva dāna deti: dāna seharusnya diberikan dengan pertimbangan yang sesuai dan dengan rasa hormat. Hanya bila sesuatu diberikan dengan kehangatan seperti itulah muncul keramahan yang saling memperkaya dan mempersatukan pendana dengan penerima.
  3. Sahattha deti: dāna yang dilakukan dengan tangan sendiri. Keterlibatan dalam berdana sangatlah bermanfaat. Ini meningkatkan hubungan antara pemberi dan penerima.
  4. Na Apaviddham deti: orang yang seharusnya tidak memberikan dāna apa yang cocok untuk Orang harus berhati-hati untuk memberikan apa yang berguna dan sesuai.
  5. Na anagamanaditthiko deti: orang seharusnya tidak memberikan dengan cara yang sama sembarangan sehingga membuat si penerima merasa tidak ingin datang lagi.

Kelima cara tersebut merupakan cara yang tepat dan baik untuk melakukan dāna, terutama kepada para arya anggota saṅgha. Meskipun terdapat lima cara tetapi yang perlu diingat adalah dāna harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan (saddhaya deti) agar apa yang telah dilakukan membuahkan karma baik dan membuahkan jasa-jasa kebajikan yang nantinya bisa berguna untuk kehidupan saat ini maupun untuk kehidupan yang akan datang.

REFERENSI:

  • Bhikkhu 2010. Dāna. Myanmar: Vihara Padumuttara.
  • Nyanaponika dan Bhikku Bodhi. Aṅguttara Nikāya. Klaten Vihara Bodhivamsa wisma Dhammaguna.

Saṅgha Theravada indonesia. 2005. Nidhikhaṇḍa Sutta. Jakarta: Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.