Berita & Artikel

Memberi Dengan Tulus Adalah Awal Investasi Kebahagiaan

Oleh Samanera Aggasīlo

 

Yassa Dānena Sīlena, Saññamena Damena Ca

Nidhi Sunihito Hoti, Itthiyā Purisassa Vā.

“Harta karun berupa kebajikan dengan berdana, bertata susila, dan

Dengan pencegahan dan penahanan (diri dari keburukan) adalah

Pemendaman harta karun yang baik bagi wanita atau pria.”

( Nidhikanda Sutta )

Kelahiran sebagai manusia sangatlah susah dan langka. Demikianlah bahasa Dhamma menggambarkan bagaimana beruntungnya makhluk yang memiliki kondisi untuk terlahir menjadi manusia. Kelahiran sebagai manusia diibaratkan seperti kura-kura buta yang hidup di samudra raya, dan muncul dipermukaan setahun sekali, kura-kura tersebut harus bisa menemukan gelang yang ada di samudra raya tersebut.

Perumpamaan lain yang bisa menggambarkan susahnya terlahir sebagai manusia yaitu seseorang yang buta memanjat pohon yang tinggi, memiliki sebuah jarum jahit dan jauh dibawah pohon tersebut ada botol yang didirikan sebagai target orang tersebut untuk melemparkan jarum supaya bisa masuk ke dalam botol. Demikian juga susahnya bagi makhluk-makhluk untuk terlahir sebagai manusia.

Bila manusia mengerti susahnya untuk terlahir sebagai manusia, maka akan mempergunakan dan mencintai kehidupan yang sangat berharga ini dengan sebaik-baiknya, tetapi karena pemahaman dan pengertian belum muncul maka menimbulkan kurangnya rasa cinta terhadap kehidupan, sehingga melakukan tindakan yang tidak berguna bagi kehidupan, khususnya bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagai manusia, dari kehidupan ke kehidupan selanjutnya tentu harus memiliki misi. Misi kehidupan sebagai manusia yaitu menyempurnakan paramita untuk membebaskan diri dari lingkaran tumimbal lahir. Lingkaran tumimbal lahir dapat diibaratkan seperti benang yang tidak ada ujungnya dan tidak terputus-putus. Benang itu tidak akan putus jika seseorang tidak mau memutuskannya. Demikianlah halnya dengan kehidupan ini, jika seseorang tidak mau memutuskan rantai kehidupan tersebut maka rantai tersebut tidak akan pernah putus. Cara supaya bisa memutuskan rantai kehidupan tersebut adalah dengan berusaha memupuk paramita atau kebajikan. Dhamma menjelaskan ada 10 kebajikan (Dāsa paramita) yang hendaknya terus dipupuk oleh manusia, salah satu diantaranya yang sangat mudah untuk dilakukan yaitu Dāna atau kerelaan. Kerelaan artinya perasaan tulus dan ikhlas memberikan barang yang dimiliki untuk orang lain. Dari semua jenis kebajikan hanya kerelaan dalam memberilah yang paling mudah untuk dilakukan. Dalam agama Buddha dāna dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu misa dāna, Mahāti dāna, dan Dhamma dāna. misa dāna yaitu kerelaan dalam memberi berupa materi, Misalnya makanan, minuman, bahkan bisa juga berupa uang yang dapat dimanfaatkan langsung oleh orang lain.

 

Mahātidāna yaitu kerelaan memberi berupa pengorbanan jiwa dan raga. Praktek dāna dalam jenis ini dapat dicontohkan pada saat pertapa Gotama bertapa di hutan Uruvela selama 6 tahun untuk menyiksa diri demi memperoleh pengetahuan sejati yaitu Dhamma dan membebaskan diri dari kelahiran kembali dengan melihat fenomena kehidupan yang sebenarnya dan mencapai Nibbāna. Dhammadāna yaitu, Pemberian berupa pengetahuan Dhamma. Dalam Sutta dijelaskan bahwa SABBA DᾹNAṂ DHAMMA DᾹNAṂ JINATI, artinya dari semua pemberian, pemberian Dhamma-lah yang tertinggi. Semua jenis dāna tersebut jika dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan menghasilkan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan saat ini maupun kehidupan akan datang. Ada beberapa kondisi yang dapat menimbulkan dāna yang dilakukan dapat disebut dengan dāna yang baik dan berkualitas yaitu :

1. Berbahagia sebelum memberi

Tindakan jasa yang dilakukan ataupun barang yang dipersiapkan sebagai persembahan haruslah didapatkan dari penghasilan yang benar. Penghasilan yang benar yaitu penghasilan yang tidak didapatkan dari penjualan senjata, penjualan makhluk hidup, dan lain sebagainya, sehingga persembahan yang dilakukan didapatkan dari cara-cara yang benar serta tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Selain didapatkan dengan cara yang benar, hendaknya sebelum melakukan persembahan harus dalam pikiran yang baik bukan dari pikiran yang kurang baik seperti mengharapkan sesuatu yang lebih dari pemberian tersebut, tetapi murni karena ingin melakukan kebajikan dan mengurangi penderitaan orang lain.

2. Berbahagia saat memberi

Pada saat menyerahkan atau memberikan sebuah jasa atau barang kepada orang lain hendaknya diliputi kebahagiaan, tidak diliputi oleh keragu-raguan. Menyerahkan suatu persembahan dilakukan dengan penuh rasa hormat dan berpikiran “semoga jasa kebajikan yang dilakukan akan membawa manfaat yang besar bagi penerima sehingga mampu mengurangi penderitaan atau masalah yang menimpa.

3. Berbahagia setelah memberi

Kebahagiaan juga hendaknya dimunculkan setelah melakukan dāna atau pemberian. Kondisi seperti itu sangatlah penting untuk dimunculkan supaya tidak mengurangi nilai dari dāna atau kebajikan yang dilakukan. Kebahagiaan setelah memberi juga dapat diwujudkan seperti tidak mengungkit-ungkit kembali dāna atau persembahan yang dilakukan sehingga tidak akan menimbulkan penyesalan dari kebajikan yang dilakukan, karena penyesalan akan menimbulkan penderitaan.

Demikianlah bagi orang yang mengerti bahwa berdana sangatlah penting untuk dilakukan. Berdana dengan cara yang baik dan benar akan membawa kebahagiaan bagi pelaku dāna, manfaat dari dāna tersebut dapat di kategorikan ke dalam 2 hal yaitu Kebahagiaan yang dapat dirasakan dalam kehidupan saat ini maupun kehidupan akan datang.

4. Dalam kehidupan saat ini

Ada beberapa hal yang bermanfaat bagi seseorang yang melatih diri dalam melepas atau memberi yang bisa langsung dinikmati pada kehidupan saat ini juga yang dapat dirasakan oleh diri sendiri sebagai pemberi dāna atau orang lain sebagai obyek dāna atau tempat pemberian jasa ditujukan, diantaranya:

Manfaat bagi diri sendiri:

  • Umur panjang, kecantikan atau paras yang bagus, kebahagiaan, dan kekuatan.
  • Mengikis keserakahan, kekikiran dan kemelekatan
  • Persembahan / sebagai ungkapan rasa terima kasih
  • Melindungi diri

Manfaat yang dapat dirasakan oleh penerima dāna:

  • Mengurangi derita orang yang tertimpa musibah
  • Membantu mereka yang sedang memerlukan
  • Membahagiakan orang lain

5. Dalam kehidupan akan datang

  • Jalan menuju surga (alam dewa)
  • Paket provisi (bekal) dalam menghadapi kelahiran kembali yang panjang
  • Jalan langsung menuju tempat tujuan yang baik (kelahiran)
  • Menunjang pencapaian Magga, Phala dan Nibbāna.

Inilah manfaat yang dapat diterima bagi seseorang yang terus melatih diri dalam melakukan kebajikan. Kebajikan yang dilakukan akan menjadi pulau pelindung bagi pembuat kebajikan. Kebajikan tersebut akan melindungi dalam kehidupan saat ini maupun dalam kehidupan akan datang sehingga akan terus membuahkan kebahagiaan yang terus menerus. Melatih diri untuk memberi bukan berarti mengurangi harta kekayaan yang dimiliki tetapi mengurangi untuk menambah paramita atau kebajikan yang akan menjadi bekal untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya. Dengan memberi berarti mencintai kehidupan, mencintai kehidupan berarti mencintai diri sendiri sebagai makhluk yang berpenghidupan. Dengan mencintai diri sendiri dan kehidupan berarti akan mempergunakan kesempatan lahir sebagai manusia dengan sebaik-baiknya. Maka, hidup ini bukan sebuah ilusi tetapi sebuah kenyataan, kehidupan yang harus diperjuangkan demi tercapainya kebebasan abadi dengan terus memupuk paramita atau kebajikan.

Semoga dengan terus melatih diri dalam Dhamma, terus melatih diri dalam memberi akan mengurangi kemelekatan pada harta kekayaan yang dimiliki sehingga mengkondisikan untuk terlahir di alam bahagia. Seperti bunga yang sudah layu tatapi bisa memberikan kebahagiaan pada setiap orang yang melihatnya. Demikianlah hendaknya seseorang menjalani kehidupan ini.