Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Selasa, (9/12/2025), Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa dengan Yayasan Sosialisasi Kanker Indonesia (YSKI), sebuah lembaga yang berkomitmen pada edukasi publik terkait pencegahan dan deteksi dini kanker. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bapak Agus Santoso Acara berlangsung di Graha Kertarajasa dan dihadiri oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa serta dosen. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan wawasan sivitas akademika mengenai bahaya kanker, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahannya, sehingga masyarakat kampus mampu menjadi agen penyebaran informasi yang benar dan berbasis ilmiah terkait isu kesehatan ini.

 

 

Pada sesi pertama, narasumber menjelaskan pengertian kanker menurut perspektif medis modern. Kanker dipahami sebagai penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak terkontrol, yang dapat menyerang dari sel darah merah dan kelenjar getah bening kemudian menyebar ke organ lain melalui proses metastasis. Secara ilmiah, kanker muncul akibat kerusakan materi genetik (DNA) pada sel yang menyebabkan gangguan mekanisme regulasi sel, seperti pembelahan, pematangan, dan kematian sel (apoptosis). Kerusakan ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa gejala, sehingga kanker sering kali ditemukan pada tahap yang lebih lanjut. Bapak Agus menekankan bahwa kanker bukan satu jenis penyakit tunggal, tetapi kelompok besar yang masing-masing dengan karakteristik biologis dan tingkat agresivitas yang berbeda.

 

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai pemicu penyakit kanker. Menurut kajian ilmiah pemicu kanker dipengaruhi oleh faktor genetik, gaya hidup, dan pola konsumsi. Faktor genetik berkaitan dengan adanya mutasi gen bawaan atau kecenderungan keluarga terhadap kanker tertentu, misalnya kanker payudara yang terkait. Namun, sebagian besar kanker berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, serta paparan radikal bebas. Pola konsumsi makanan menjadi faktor signifikan lainnya; tingginya asupan makanan tinggi lemak, gula, dan bahan pengawet dapat meningkatkan risiko peradangan kronis yang menjadi pemicu transformasi sel abnormal. Sebaliknya, pola makan berbasis sayur, buah, dan serat berperan dalam menekan proliferasi sel kanker melalui mekanisme antioksidan.

 

Bapak Agus secara khusus memberikan perhatian kepada stres. Diakrena stres juga sangat berbahaya bagi penderita kanker karena tubuh yang berada dalam kondisi stres berkepanjangan mengalami penurunan fungsi kekebalan, termasuk penurunan sel yang berperan menghancurkan sel kanker. Ketidakseimbangan hormon stres dapat meningkatkan peradangan sistemik, mempercepat proliferasi sel ganas, serta menghambat efektivitas terapi medis seperti kemoterapi dan radiasi. Pada beberapa jenis kanker, stres bahkan dikaitkan dengan peningkatan angiogenesis—pembentukan pembuluh darah baru yang memberi suplai nutrisi bagi sel tumor untuk tumbuh lebih cepat. Oleh karena itu, pengelolaan stres melalui relaksasi, meditasi, aktivitas fisik, atau pendampingan psikologis menjadi bagian penting dalam strategi penanganan dan pencegahan kanker secara komprehensif.

 

Materi ketiga membahas deteksi dini gejala kanker, khususnya kanker prostat, serviks, dan payudara—tiga jenis kanker yang paling sering ditemukan pada laki-laki dan perempuan. Pada kanker prostat, gejala awal sering kali berupa kesulitan buang air kecil, aliran urin melemah, dan rasa tidak tuntas saat berkemih. Pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) menjadi metode skrining penting untuk mendeteksi kelainan sebelum berkembang menjadi kanker stadium lanjut. Sementara itu, kanker serviks biasanya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, namun dapat dikenali melalui pemeriksaan Pap smear atau IVA test, yang mendeteksi perubahan sel serviks akibat infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Untuk kanker payudara, deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) serta pemeriksaan klinis seperti mamografi. Benjolan yang tidak nyeri, perubahan bentuk payudara, atau keluarnya cairan abnormal dari puting perlu segera diperiksakan secara medis. Bapak Agus menegaskan bahwa deteksi dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan hingga 90 persen.

 

Sesi terakhir membahas upaya preventif agar terhindar dari kanker. Selain menjaga pola hidup sehat dan membatasi paparan faktor risiko, narasumber juga memperkenalkan potensi tanaman herbal sebagai pendukung pencegahan kanker. Beberapa tanaman yang dibahas antara lain keladi tikus (Typhonium flagelliforme), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), dan benalu yang hidup pada pohon teh dan kopi. Secara ilmiah, keladi tikus mengandung senyawa ribosom-inhibiting protein (RIP) yang berfungsi menghambat pertumbuhan sel kanker melalui mekanisme apoptosis. Temulawak kaya akan kurkumin dan xanthorrhizol, senyawa antioksidan dan antiinflamasi yang berperan mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas. Sementara itu, benalu teh dan kopi memiliki flavonoid dan polifenol tinggi yang berpotensi menekan pertumbuhan sel abnormal. Meskipun bersifat mendukung, Bapak Agus menegaskan bahwa penggunaan herbal tidak menggantikan terapi medis dan tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.

 

Kegiatan penyuluhan ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para mahasiswa dan dosen menunjukkan antusiasme tinggi, terutama terkait strategi menjaga kesehatan sejak dini dan penguatan edukasi masyarakat tentang kanker. Melalui kegiatan ini, diharapkan pengetahuan sivitas akademika semakin meningkat dan mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi bekal dalam menyebarkan informasi kesehatan yang valid dan bertanggung jawab.

kampus Sehat

Deteksi Dini Kanker