Berita Detail

Latifah

Antara Folklor, Ekoteologi, dan  Agama di Ruang Publik

Film dokumenter Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung mengingatkan bahwa yang lebih mengerikan daripada mengeringnya sendang adalah mengeringnya kesadaran manusia terhadap kehidupan. Inilah poin penting narasi film yang menggema di ruang kuliah  Kajian Agama-Agama Semester II Program Studi Agama-Agama STAB Kertarajasa. Para mahasiswa diajak menyelami realitas melalui layar dalam pemutaran film yang diproseduri oleh pengampu mata kuliah ini, Latifah.

Film ini mengupas tuntas hubungan dialektis antara kondisi geologis Malang Raya yang kaya akan mata air (sendang) dengan folklor atau cerita rakyat yang “mengawal” kelestariannya. Mulai dari mitos Dewi Madrim di Sumber Wendit hingga keramatnya Ikan Wader di Polaman.  Sendang dan folklornya adalah ekspresi agama dalam arti luas, di mana keyakinan, ritual, dan kearifan lokal berpadu menjadi etika ekologis yang hidup di tengah masyarakat. Pemutaran ini menjadi bagian dari sinkronisasi materi perkuliahan yang menghubungkan Ekoteologi dengan pemikiran sosiolog José Casanova tentang Agama di Ruang Publik.

 

Menjembatani Teori Casanova dengan Praktik Lokal

Dalam diskusi kelas dijelaskan, film tersebut adalah potret dari konsep “deprivatisasi agama” ala Casanova. Selama era modern, agama sering dianggap terpinggirkan ke ranah privat. Namun, apa yang terjadi di cekungan Gunung Kawi, Arjuno, dan Welirang membuktikan sebaliknya.

Air tidak hanya soal H20 atau sumber daya ekonomi. Seperti dalam film, air adalah entitas sakral yang terkait dengan agama, politik, dan kebudayaan. Ketika masyarakat memuliakan sendang melalui ritual atau mitos (seperti pantangan mengambil ikan), mereka sebenarnya sedang melakukan tiga tipe kehadiran agama di ruang publik versi Casanova: membela nilai moral publik (air bersih adalah kebaikan bersama), membela warga negara (melawan eksploitasi air yang merusak ekologi), dan melawan sistem tidak adil (menolak Tragedy of the Commons).

 

Mitos sebagai “Buffer” Ekologis

Salah satu poin diskusi yang paling mengemuka adalah fungsi folklor sebagai "buffer budaya". Dalam film disebutkan bahwa mitos dan legenda adalah “penyangga” yang mencegah masyarakat memperlakukan alam secara serakah.

Mahasiswa mengamati bahwa di Sumber Polaman atau Beji Sari, mitos dan larangan (tabu) berfungsi sebagai software pengaman ekologis. Hal ini sejalan dengan ajaran Buddha tentang Paṭiccasamuppāda (saling tergantung) dan Karunā (welas asih). Kesadaran bahwa "jika alam rusak, manusia pun menderita" dapat diinternalisasi melalui cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.

 

Bekal Sebelum Aksi Nyata: Penuangan Eco Enzyme

Pemutaran film ini juga menjadi pembekalan konseptual bagi mahasiswa untuk menghadapi aksi nyata yang akan datang. Pada Minggu, 10 Mei 2026, Bimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur menggelar Gerakan Penuangan Eco Enzyme Serentak, termsuk di lokasi sekitar kampus, yang tepatnya di Sungai Desa Beji, Kota Batu.

Para mahasiswa menyadari bahwa menuang eco enzyme bukan sekadar aksi teknis menjernihkan air. Tindakan ini dapat dipahami sebagai ritual modern dan bentuk deprivatisasi yang di dalamnya Buddhis mengambil sikap di ruang publik untuk melawan pencemaran dan menjaga keseimbangan alam.

Dengan wawasan yang diperoleh dari film dan diskusi Casanova, para mahasiswa terlibat dalam kegiatan tidak hanya dengan membawa botol eco enzyme, tetapi dengan kesadaran penuh (mindfulness) bahwa mereka sedang merawat "rumah bersama", menjaga kedaulatan air, serta menghidupkan kembali nilai-nilai kesakralan yang tengah tergerus oleh arus industrialisasi.

Dengan menggabungkan teori Casanova tentang ruang publik, analisis folklor dalam Tirta Carita, dan aksi nyata eco enzyme, kampus ini turut mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui aksi pemulihan kualitas sungai, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan pengurangan polusi air berbasis komunitas, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pelestarian mata air dan kearifan lokal. Lebih dari itu, keterlibatan mahasiswa dalam gerakan ekoteologi mencerminkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) yang tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi membentuk karakter sadar lingkungan. 

Tirta carita